Dinamika geopolitik di kawasan Asia saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspansi pengaruh ekonomi dan politik Tiongkok. Melalui berbagai inisiatif strategis, Beijing berhasil memosisikan diri sebagai mitra pembangunan utama bagi banyak negara berkembang. Namun, di balik aliran modal dan bantuan infrastruktur tersebut, muncul perdebatan serius mengenai sejauh mana kebijakan luar negeri Tiongkok memengaruhi kedaulatan ekonomi negara-negara di kawasan tersebut.
Strategi Belt and Road Initiative sebagai Instrumen Utama
Instrumen paling signifikan dalam politik luar negeri Tiongkok adalah Belt and Road Initiative (BRI). Program ini menawarkan pendanaan masif untuk proyek-proyek infrastruktur seperti pelabuhan, jalan tol, dan jaringan kereta api. Bagi banyak negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan, tawaran ini merupakan solusi atas kesenjangan pembiayaan pembangunan. Namun, ketergantungan pada pinjaman dari lembaga keuangan Tiongkok seringkali menciptakan beban utang yang sangat besar. Ketika sebuah negara gagal memenuhi kewajiban pembayaran, kedaulatan atas aset-aset strategis sering kali menjadi taruhannya, yang secara perlahan mengikis kemandirian ekonomi domestik.
Fenomena Diplomasi Jebakan Utang
Istilah “diplomasi jebakan utang” menjadi sorotan tajam ketika membahas kedaulatan ekonomi. Beberapa negara di kawasan Asia mulai merasakan tekanan fiskal akibat skema pembiayaan yang dianggap kurang transparan. Keterikatan finansial ini tidak jarang memaksa negara penerima investasi untuk menyelaraskan kebijakan luar negeri mereka dengan kepentingan Tiongkok atau memberikan konsesi lahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Hal ini menciptakan dilema di mana pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh investasi asing justru berisiko melemahkan kontrol negara terhadap sumber daya nasionalnya sendiri.
Dominasi Perdagangan dan Ketergantungan Rantai Pasok
Selain melalui investasi infrastruktur, kebijakan ekonomi Tiongkok juga berfokus pada dominasi perdagangan regional. Banyak negara di Asia kini menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar mereka. Ketergantungan yang tinggi pada pasar dan rantai pasok Tiongkok memberikan Beijing kekuatan tawar yang sangat besar. Jika terjadi ketegangan politik, Tiongkok sering kali menggunakan instrumen ekonomi, seperti pembatasan impor atau boikot, sebagai alat penekan. Kerentanan ini menunjukkan bahwa kedaulatan ekonomi bukan hanya soal kepemilikan aset, tetapi juga tentang diversifikasi mitra dagang agar tidak terjebak dalam hegemoni satu kekuatan besar.












