Fenomena politik populis telah menjadi tren global yang mewarnai dinamika kekuasaan di berbagai negara. Dalam masyarakat yang heterogen—yang terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan golongan—retorika politik populis sering kali hadir sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mampu menyuarakan aspirasi kelompok yang merasa terpinggirkan, namun di sisi lain, ia menyimpan risiko besar terhadap stabilitas sosial yang telah lama terjaga dalam bingkai keberagaman.
Mekanisme Retorika Politik Populis
Retorika populis umumnya bekerja dengan menciptakan dikotomi tajam antara “rakyat murni” melawan “elit korup” atau “pendatang asing”. Pemimpin populis menggunakan narasi yang emosional dan sederhana untuk menarik simpati massa. Dalam konteks masyarakat yang majemuk, strategi ini sering kali bergeser menjadi politik identitas. Ketika narasi “kami versus mereka” mulai mendominasi ruang publik, batas-batas toleransi antar kelompok sosial cenderung menipis. Ketidakpastian dan ketakutan akan kehilangan dominasi identitas menjadi bahan bakar utama bagi penguatan sentimen kelompok tertentu.
Erosi Toleransi dan Polarisasi Masyarakat
Dampak paling nyata dari retorika populis adalah meningkatnya polarisasi sosial. Masyarakat yang awalnya hidup berdampingan secara damai mulai terkotak-kotak berdasarkan preferensi politik yang bersumber dari identitas primordial. Diskusi publik yang seharusnya berbasis pada kebijakan dan data, berubah menjadi ajang penghakiman moral dan serangan personal. Polarisasi ini tidak hanya terjadi di level elit, tetapi merasuk hingga ke tingkat keluarga dan komunitas lokal, menciptakan ketegangan yang sulit untuk direkonsiliasi bahkan setelah pesta demokrasi berakhir.
Ancaman Terhadap Stabilitas Keamanan dan Harmoni
Stabilitas sosial sangat bergantung pada rasa saling percaya antar warga negara. Retorika yang menyerang kelompok minoritas atau menyebarkan disinformasi demi kepentingan elektoral dapat memicu konflik horizontal. Ketika kebencian dilegitimasi melalui bahasa politik, potensi terjadinya persekusi atau gesekan fisik meningkat secara signifikan. Hal ini merusak tatanan hukum dan membuat penegakan keadilan menjadi bias. Stabilitas nasional pun terancam karena energi bangsa habis terkuras untuk konflik internal alih-alih berkolaborasi demi kemajuan bersama.
Membangun Resiliensi Terhadap Populisme Negatif
Untuk menjaga stabilitas dalam masyarakat yang heterogen, diperlukan literasi politik yang kuat dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan kritis menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh janji-janji manis yang memecah belah. Selain itu, peran institusi independen dan media massa yang objektif sangat krusial untuk melakukan cek fakta terhadap narasi populis yang menyesatkan. Menjaga ruang dialog yang inklusif adalah langkah mutlak guna memastikan bahwa keberagaman tetap menjadi kekuatan, bukan kelemahan yang dieksploitasi demi kekuasaan sesaat.












